Beranda Jak-Property Tren Harga Apartemen di Jakarta Selatan 2026: Data Terbaru & Analisis Ekonomi

Tren Harga Apartemen di Jakarta Selatan 2026: Data Terbaru & Analisis Ekonomi

3
Tren Harga Apartemen di Jakarta Selatan 2026: Data Terbaru & Analisis Ekonomi

Jakarta, 2026 – Harga apartemen di wilayah Jakarta Selatan menunjukkan tren yang relatif stabil meskipun pertumbuhan tidak signifikan, mencerminkan dinamika pasar properti ibu kota yang sedang memasuki fase konsolidasi.

Data terbaru menunjukkan rata-rata harga jual apartemen di Jakarta termasuk Jakarta Selatan berada di kisaran Rp36 juta per meter persegi, dengan variasi yang cukup lebar tergantung pada lokasi dan kelas hunian.

Menurut laporan harga properti Jakarta 2026, kisaran harga per meter persegi di seluruh kota umumnya berada di Rp28 juta hingga Rp45 juta/m², sedangkan daerah premium seperti SCBD, Kuningan, dan kawasan elite lainnya bisa mencapai lebih dari Rp45 juta/m².

Di antara subpasar Jakarta, Jakarta Selatan terus menjadi salah satu yang menarik perhatian pembeli dan investor, terutama seiring dengan konsolidasi harga dan tren permintaan sewa stabil di sebagian besar area.

Harga Apartemen di Jakarta Selatan: Kondisi Terkini

Mengacu pada data listing properti terkini, harga rata-rata apartemen di Jakarta Selatan pada awal 2026 menunjukkan beberapa temuan penting:

  • Data harga dari platform listing memperlihatkan bahwa median harga apartemen di Jakarta Selatan berada di sekitar Rp3,7 miliar per unit pada kuartal pertama 2026, dengan harga sebagian unit yang jauh lebih tinggi tergantung pada luas dan fasilitas bangunan.
  • Rentang harga yang luas mulai dari ratusan juta untuk unit kecil di daerah pinggiran hingga beberapa miliar untuk unit strata title di kawasan premium seperti Kebayoran Baru atau Cilandak mencerminkan keragaman segmentasi pasar di Jakarta Selatan.
  • Variasi harga per meter di area Jakarta secara keseluruhan juga memperlihatkan disparitas yang signifikan: dari sekitar **Rp18 juta/m² di segmen non-premium hingga lebih dari Rp80 juta/m² di lokasi prestisius seperti SCBD atau Sudirman meski zona tersebut berada di perbatasan Jakarta Selatan dengan Jakarta Pusat.

Secara historis, laporan riset dari Colliers International mencatat bahwa harga rata-rata apartemen di Jakarta Selatan tumbuh tipis, dengan angka sekitar IDR40,65 juta/m² pada kuartal pertama 2025, menggambarkan pertumbuhan tahunan moderat dibanding zona lain.

Pergerakan Pasar: Permintaan, Pasokan, dan Faktor Ekonomi

Demand & Segmen Pembeli

Pasar Jakarta Selatan selama beberapa tahun terakhir tetap menarik bagi berbagai segmen pembeli, khususnya:

  • Profesional urban yang bekerja di koridor bisnis Jakarta Selatan dan pusat kota, yang menghargai aksesibilitas dan waktu tempuh yang efisien.
  • Ekspatriat dan eksekutif perusahaan internasional yang mencari hunian jangka menengah hingga panjang dengan fasilitas lengkap.
  • Investor yang mengincar potensi sewa jangka pendek maupun tahunan dengan yield kompetitif dibanding beberapa kota regional.

Konsolidasi harga pada 2025–2026 tampaknya dipengaruhi oleh peningkatan pasokan yang lebih moderat serta kehadiran skema insentif pajak seperti pembebasan PPN yang diperpanjang, yang membantu menjaga minat pembeli di segmen menengah hingga menengah-atas.

Supply dan Risiko Oversupply

Data terbaru dari The Jakarta Post menunjukkan bahwa pasokan apartemen di Jakarta pada 2025 mengalami penurunan jumlah unit baru yang ditambahkan, dari sekitar 4.000 unit menjadi sekitar 2.200 unit, menandakan adanya peralihan strategi para pengembang yang menunda penyelesaian proyek dan mengurangi suplai baru di pasar.

Perlambatan suplai ini justru membantu menghindari oversupply signifikan sebuah kondisi yang sering menjadi faktor utama penurunan harga di pasar properti besar sehingga secara relatif harga di Jakarta Selatan tetap stabil.

Perbandingan Jakarta Selatan dengan Kawasan Lain

Dibandingkan dengan kawasan lain di Jakarta:

  • Kawasan premium seperti CBD atau SCBD/Sudirman mempertahankan harga per meter lebih tinggi secara signifikan, sering kali mencapai Rp45 juta–Rp80 juta/m² atau lebih di kawasan super premium.
  • Sementara itu, segmen non-CBD atau area pinggiran di Jakarta Timur dan Jakarta Utara cenderung mencatat harga lebih rendah, sekitar Rp18 juta–Rp30 juta/m².

Dengan demikian, Jakarta Selatan masih berada di kelas menengah-atas, di mana harga dipengaruhi oleh kombinasi lokasi, akses transportasi, fasilitas urban, dan kedekatan dengan pusat bisnis terbesar di kota.

Dampak Ekonomi & Strategi Pembeli

Bunga KPR, Inflasi, dan Kebijakan Fiskal

Kebijakan perbankan seperti suku bunga kredit pemilikan apartemen (KPA) tetap menjadi salah satu faktor yang memengaruhi daya beli. Suku bunga yang relatif stabil membantu menjaga stabilitas permintaan, meskipun daya beli pembeli kelas menengah bawah tetap tertahan pada level yang lebih rendah.

Outlook Investasi

Meski pertumbuhan harga di Jakarta pada 2026 diperkirakan moderat sekitar 1%–2% per tahun menurut beberapa proyeksi riset pasar banyak analis melihat bahwa properti di kawasan padat seperti Jakarta Selatan tetap menjadi aset jangka panjang yang solid karena keterbatasan lahan dan permintaan yang relatif stabil.

Namun, bagi investor yang mengejar imbal hasil sewa, faktor seperti tingkat okupansi, biaya pengelolaan, pajak, dan ketidakpastian ekonomi makro tetap perlu dipertimbangkan secara hati-hati.

Analisis Ringkas

Pasar apartemen Jakarta Selatan 2026 menunjukkan karakter stabil namun moderat dalam pergerakan harga. Berbagai faktor struktural termasuk penurunan pasokan baru, kebijakan fiskal, dan permintaan dari segmen profesional urban berkontribusi menjaga stabilitas harga, meskipun pertumbuhan tidak tajam seperti di beberapa kawasan premium lain.

Data memperlihatkan bahwa wilayah ini tetap menjadi salah satu subpasar yang paling diandalkan di Jakarta untuk pembelian dan investasi jangka menengah hingga panjang.

Ikuti laporan berkala jakbuzz.com mengenai dinamika harga properti di berbagai kawasan Jakarta untuk memahami pergeseran pasar secara menyeluruh, mulai dari harga per meter persegi hingga indikator permintaan dan pasokan di setiap segmen.