Beranda Jak-Property Pasar Kondominium Jakarta Masih Tertekan, Minim Proyek Baru Sepanjang 2025

Pasar Kondominium Jakarta Masih Tertekan, Minim Proyek Baru Sepanjang 2025

4
Pasar Kondominium Jakarta Masih Tertekan, Minim Proyek Baru Sepanjang 2025
Pasar Kondominium Jakarta Masih Tertekan, Minim Proyek Baru Sepanjang 2025

Jak Buzz – Pasar kondominium Jakarta masih menghadapi tekanan sepanjang 2025. Minimnya peluncuran proyek baru serta penjualan yang belum pulih menunjukkan segmen hunian vertikal di ibu kota belum sepenuhnya bangkit.

Laporan pasar properti yang dikutip dari Kontan.co.id menyebutkan, aktivitas peluncuran kondominium di Jakarta cenderung stagnan. Sepanjang periode terakhir, hampir tidak ada proyek baru yang resmi diluncurkan ke pasar.

Menurut laporan konsultan properti, pada kuartal IV-2025 tidak tercatat adanya peluncuran proyek kondominium baru. Kondisi ini mencerminkan sikap hati-hati pengembang di tengah permintaan yang masih lemah.

“Tidak ada peluncuran proyek baru pada periode tersebut karena pengembang masih fokus pada penjualan stok eksisting,” demikian dikutip dari Kontan.co.id.

Penjualan Melambat, Developer Fokus Stok Lama

Selain minim proyek baru, penjualan kondominium Jakarta juga tercatat belum menunjukkan pemulihan signifikan. Tingkat serapan unit masih lebih rendah dibandingkan segmen rumah tapak.

Data pasar menunjukkan tingkat penjualan kondominium berada jauh di bawah hunian landed house. Hal ini menandakan preferensi konsumen yang masih condong ke rumah tapak, terutama di kawasan penyangga Jakarta.

Di sisi lain, harga jual kondominium relatif stagnan. Pengembang cenderung menahan peluncuran baru dan memprioritaskan penyelesaian proyek yang sedang berjalan serta penjualan unit yang sudah tersedia.

Analisis: Preferensi Konsumen Berubah

Analis properti menilai ada beberapa faktor yang menyebabkan pasar kondominium Jakarta masih tertekan:

  1. Perubahan preferensi pembeli, yang lebih memilih rumah tapak dengan ruang lebih luas.
  2. Kondisi ekonomi dan daya beli, yang membuat konsumen lebih selektif.
  3. Strategi pengembang yang defensif, dengan menunda ekspansi proyek baru.

Selain itu, tren kerja hybrid pascapandemi turut memengaruhi kebutuhan hunian vertikal di pusat kota. Banyak konsumen kini mempertimbangkan hunian di area suburban dengan harga lebih kompetitif.

Prospek Pasar Kondominium Jakarta 2026

Meski masih tertekan, peluang pemulihan pasar kondominium Jakarta tetap terbuka. Sejumlah proyek yang hampir rampung diperkirakan bisa mendorong pergerakan penjualan, terutama di lokasi strategis dan kawasan berbasis transit oriented development (TOD).

Pengamat menilai, pemulihan pasar akan sangat bergantung pada sentimen konsumen, kebijakan insentif properti, serta inovasi produk dari pengembang.

Jika kondisi ekonomi membaik dan suku bunga lebih stabil, pasar kondominium Jakarta berpotensi bergerak lebih positif pada 2026. Namun dalam jangka pendek, pengembang diperkirakan masih akan bersikap selektif dalam meluncurkan proyek baru.