Jakarta | Jak Buzz – Pembiayaan APBN 2026 di pastikan berjalan sesuai rencana oleh pemerintah. Hingga akhir Januari 2026, realisasi pembiayaan tercatat tetap terkendali di tengah dinamika ekonomi global.
Dalam konferensi pers APBN Kita, Kementerian Keuangan Republik Indonesia menegaskan strategi pembiayaan tahun ini dirancang lebih terukur dan hati-hati. Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menyebut pemerintah mengedepankan prinsip kehati-hatian sekaligus menjaga fleksibilitas fiskal.
Realisasi Awal Tahun
Per 31 Januari 2026, realisasi pembiayaan mencapai Rp105,06 triliun atau 15,2 persen dari target tahunan. Angka ini lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu, mencerminkan strategi pembiayaan yang tidak terlalu agresif di awal tahun.
Sementara itu, pembiayaan utang terealisasi Rp127,3 triliun atau 15,3 persen dari target APBN 2026. Instrumen utama tetap melalui penerbitan Surat Berharga Negara (SBN).
Minat Investor Tetap Kuat
Tiga lelang awal Surat Utang Negara mencatat rata-rata bid-to-cover ratio 2,2 kali. Untuk Surat Berharga Syariah Negara (SBSN), rasio mencapai 3,8 kali.
Tingginya permintaan ini menjadi sinyal positif atas kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi domestik.
Koordinasi kebijakan fiskal dan moneter antara pemerintah dan Bank Indonesia disebut terus diperkuat guna menjaga stabilitas pasar keuangan.
Fokus Investasi dan Ketahanan Pangan
Selain utang, pemerintah mengalokasikan Rp203 triliun untuk pembiayaan investasi pada 2026. Hingga akhir Januari, realisasinya mencapai Rp22,73 triliun.
Pembiayaan ini diarahkan untuk mendorong sektor produktif, khususnya pertanian dan ketahanan pangan. Pemerintah juga mencatat penerimaan kembali investasi sebesar Rp49 miliar dari pelunasan Program Pemulihan Ekonomi Nasional di daerah.
Menurut Juda, pembiayaan investasi diharapkan memberi dampak langsung pada kesejahteraan masyarakat, termasuk menjaga stabilitas harga pangan dan memperkuat fondasi ekonomi nasional.
Dengan strategi yang terukur dan respons pasar yang solid, pemerintah optimistis APBN 2026 tetap menjadi instrumen utama menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi.





