Jak Buzz – Warga DKI Jakarta masih ngontrak rumah dalam jumlah yang signifikan. Data terbaru menunjukkan hampir separuh warga ibu kota belum memiliki hunian sendiri dan masih bergantung pada rumah sewa atau kontrakan.
Kondisi ini menegaskan bahwa persoalan kepemilikan rumah di Jakarta masih menjadi tantangan besar di tengah kenaikan harga properti yang terus berlangsung.
Berdasarkan laporan Kompas.com, hampir 50 persen warga DKI Jakarta tinggal di hunian sewa. Angka tersebut mencerminkan tingginya tekanan biaya perumahan di wilayah perkotaan, khususnya di Jakarta yang menjadi pusat ekonomi nasional.
“Hampir separuh warga DKI Jakarta masih mengontrak rumah,” demikian dilaporkan Kompas.com dalam artikelnya.
Harga Rumah Jakarta Semakin Sulit Dijangkau
Fenomena warga DKI Jakarta masih ngontrak rumah tidak lepas dari lonjakan harga properti. Harga rumah tapak di sejumlah kawasan strategis Jakarta kini menembus miliaran rupiah. Bahkan untuk hunian sederhana di pinggiran kota, harga tetap tergolong tinggi bagi masyarakat berpenghasilan menengah.
Kenaikan harga tanah yang konsisten setiap tahun tidak selalu diikuti dengan peningkatan pendapatan masyarakat. Akibatnya, banyak keluarga yang memilih menyewa sebagai solusi jangka panjang.
Kompas.com menyoroti bahwa kesenjangan antara harga rumah dan daya beli menjadi salah satu faktor utama sulitnya kepemilikan hunian di ibu kota.
Akses Pembiayaan Masih Jadi Kendala
Selain harga, akses pembiayaan juga menjadi tantangan. Tidak semua warga memenuhi syarat kredit pemilikan rumah (KPR), baik dari sisi penghasilan tetap, riwayat kredit, maupun besaran uang muka.
Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa kondisi ini memperlihatkan tantangan struktural dalam penyediaan hunian layak dan terjangkau di Jakarta.
Banyak generasi muda yang akhirnya memilih tetap menyewa karena fleksibilitas dan pertimbangan mobilitas kerja. Pola kerja hybrid dan perpindahan pekerjaan yang cepat membuat sebagian masyarakat belum memprioritaskan kepemilikan rumah.
Urbanisasi Perbesar Tekanan Hunian
Jakarta sebagai pusat aktivitas ekonomi terus menarik arus urbanisasi. Pertumbuhan penduduk akibat perpindahan dari daerah lain meningkatkan kebutuhan hunian setiap tahun.
Sementara itu, ketersediaan lahan di pusat kota semakin terbatas. Hal ini membuat harga properti terus terdorong naik.
Kondisi tersebut menyebabkan warga DKI Jakarta masih ngontrak rumah menjadi fenomena yang sulit dihindari dalam jangka pendek.
Peran Hunian Vertikal dan Kebijakan Pemerintah
Pemerintah telah mendorong pembangunan rumah susun, apartemen bersubsidi, serta program bantuan pembiayaan untuk meningkatkan kepemilikan rumah.
Namun efektivitas kebijakan tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti keterbatasan lahan, biaya konstruksi, dan lokasi proyek yang belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Para pengamat menilai diperlukan kebijakan perumahan yang lebih komprehensif agar warga DKI Jakarta masih ngontrak rumah tidak menjadi fenomena permanen.
Prospek Pasar Hunian Jakarta
Ke depan, stabilitas ekonomi, suku bunga KPR, serta insentif fiskal di sektor properti akan sangat menentukan pergeseran dari hunian sewa menuju kepemilikan rumah.
Jika kebijakan pembiayaan lebih inklusif dan harga properti lebih terkendali, peluang peningkatan kepemilikan rumah di Jakarta tetap terbuka.
Namun untuk saat ini, data menunjukkan bahwa warga DKI Jakarta masih ngontrak rumah dalam jumlah besar, dan hal ini menjadi indikator penting kondisi pasar perumahan ibu kota.










